Mittwoch, Juli 21, 2004

Mittwoch, Juli 21, 2004 /

saya buka kembali buku hidup saya, sebagai bahan perenungan bagi para
orang tua


Tahun 2002 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor.
Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu
itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala
sekolah.
Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang
duduk di kelas unggulan, tempat
penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu justru tercatat
sebagai anak yang bermasalah.

Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru
menanyakan apa yang terjadi di rumah
sehingga anak tersebut selalu murung dan menghabiskan sebagian besar
waktu belajar di kelas hanya untuk
melamun. Prestasinya kian lama kian merosot. Dengan lemah lembut saya
tanyakan kepada Dika "Apa yang kamu inginkan ?" Dika hanya
menggeleng.

"Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?" tanya saya

"Biasa-biasa saja" jawab Dika singkat.

Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah
untuk
mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan.
Akhirnya
kamipun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog.

Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah
untuk
menjalani test IQ. Tanpa
persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi soal dalam hitungan
menit. Beberapa saat kemudian, Psikolog yang tampil bersahaja namun
penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya. Angka
kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas) dimana
skor
untuk aspek-aspek kemapuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu
pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 -
160. Ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya
tidak
lebih dari 115 (Rata-Rata Cerdas).
Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah
yang menurut Psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Oleh
sebab itu Psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk
mengantar
Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu
menjalani test kepribadian.

Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti
serangkaian test kepribadian.
Melalui interview dan test tertulis yang dilakukan, setidaknya
Psikolog
itu telah menarik benang merah
yang menurutnya menjadi salah satu atau beberapa factor penghambat
kemampuan verbal Dika. Setidaknya
saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika. Jawaban yang jujur dari
hati
Dika yang paling dalam itu
membuat saya berkaca diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh
dari ideal.

Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan "Aku ingin ibuku :...."

Dikapun menjawab : "membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar
saja" Dengan beberapa pertanyaan
pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya kurang memberi kesempatan
kepada Dika untuk bermain bebas.
Waktu itu saya berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan
edukatif
sehingga saya merasa
perlu menjawalkan kapan waktunya menggambar, kapan waktunya bermain
puzzle, kapan waktunya bermain
basket, kapan waktunya membaca buku cerita, kapan waktunya main game
di
computer dan sebagainya.

Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya,
Dika
perlu menikmati
permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu luangnya yang
memang tinggal sedikit karena sebagian besar telah dihabiskan untuk
sekolah dan mengikuti berbagai kursus di luar sekolah. Saya selalu
pusing memikirkan jadwal kegiatan Dika yang begitu rumit.
Tetapi ternyata permintaan Dika hanya sederhana :
diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa kanak-
kanaknya.

Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan "Aku ingin Ayahku ..."

Dikapun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira
artinya
"Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku melakukan
sesuatu" Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa
Dika
tidak mau diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan
ini
dan itu. Ia hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap
hari,
seperti apa yang diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun
pagi-pagi kemudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan
minum
tanpa harus dilayani orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan
sendiri koran yang habis dibacanya dan tidur tepat waktu. Sederhana
memang, tetapi hal-hal seperti itu justru sulit dilakukan oleh
kebanyakan orang tua.

Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan "Aku ingin ibuku tidak ..."
Maka
Dika menjawab "Menganggapku seperti dirinya" Dalam banyak hal saya
merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja keras,
disiplin, hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan itu
merupakan sikap yang paling baik dan
bijaksana. Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika persis seperti
diri
saya. Saya dan banyak orang tua
lainnya seringkali ingin menjadikan anak sebagai foto copy diri kita
atau bahkan beranggapan bahwa anak
adalah orang dewasa dalam bentuk sachet kecil.

Ketika Psikolog memberikan pertanyaan "Aku ingin ayahku tidak : .."
Dikapun menjawab "Tidak
mempersalahkan aku di depan orang lain. Tidak mengatakan bahwa
kesalahan-kesalahan kecil yang aku
buat adalah dosa"

Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap
dan
bertindak benar, hingga
hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk berbuat kesalahan.
Bila
orang tua menganggap bahwa
setiap kesalahan adalah dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka
anakpun akan memilih untuk
berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya
dengan
jujur. Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu
kesalahan
apa yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang
harus
kami lakukan untuk mencegah atau menghentikannya.

Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi
kesempatan
untuk berbuat salah, kemudian iapun bisa belajar dari kesalahannya.
Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bisa
menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak
membuat
kesalahan yang serupa.

Ketika Psikolog itu menuliskan "Aku ingin ibuku berbicara
tentang ....."
Dikapun menjawab "Berbicara
tentang hal-hal yang penting saja". Saya cukup kaget karena waktu itu
saya justru menggunakan kesempatan
yang sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal
yang
menurut saya penting, seperti
menanyakan pelajaran dan PR yang diberikan gurunya.
Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting, bukanlah sesuatu
yang
penting untuk anak saya.


Dengan jawabab Dika yang polos dan jujur itu saya dingatkan bahwa
kecerdasan tidak lebih penting dari
pada hikmat dan pengenalan akan Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak
kalah pentingnya dengan ilmu
pengetahuan.

Atas pertanyaan "Aku ingin ayahku berbicara tentang .....", Dikapun
menuliskan "Aku ingin ayahku berbicara
tentang kesalahan-kesalahannya. Aku ingin ayahku tidak selalu merasa
benar, paling hebat dan tidak pernah
berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya dan meminta
maaf
kepadaku". Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar tetapi
sebagai manusia, orang tua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika
sebenarnya sederhana, yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui
kesalahnya dan kalau perlu
meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang tua
kepadanya.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan "Aku ingin ibuku setiap hari
........"

Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar "
Aku
ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan
memeluk adikku"
Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya
sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata
saya salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap
dibutuhkan supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya
tidak
menyadari bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-
anaknya
seringkali oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak
adil
atau pilih kasih.

Secarik kertas yang berisi pertanyaan "Aku ingin ayahku setiap hari
....."

Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu
kata
"tersenyum" Sederhana memang, tetapi
seringkali seorang ayah merasa perlu menahan senyumannya demi
mempertahankan wibawanya. Padahal
kenyataannya senyuman tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan
melunturkan wibawanya, tetapi justru bisa
menambah simpati dan energi bagi anak-anak dalam melakukan segala
sesuatu seperti yang ia lihat dari
ayahnya setiap hari.

Ketika Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan
"Aku ingin ibuku memanggilku...." Dikapun menuliskan "Aku ingin ibuku
memanggilku dengan nama yang bagus"
Saya tersentak sekali ! Memang sebelum ia lahir kami telah memilih
nama
yang paling bagus dan penuh arti,
yaitu Judika Ekaristi Kurniawan. Namun sayang, tanpa sadar, saya
selalu
memanggilnya dengan sebutan Nang atau Le. Nang dalam Bahasa Jawa
diambil
dari kata "Lanang" yang berarti laki-laki. Sedangkan Le dari
kata "Tole", kependekan dari kata "Kontole" yang berarti alat kelamin
laki-laki. Waktu itu saya merasa bahwa panggilan tersebut wajar-wajar
saja, karena hal itu merupakan sesuatu yang lumrah di kalangan
masyarakat Jawa.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi "Aku ingin ayahku
memanggilku .." Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu "Nama Asli".
Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan "Paijo"
karena sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa
Sunda dengan logat Jawa medok. "Persis Paijo, tukang sayur keliling"
kata suami saya.

Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu
karena selama ini saya bekerja di
sebuah lembaga yang membela dan memperjuangkan hak-hak anak. Kepada
banyak orang saya kampanyekan pentingnya penghormatan hak-hak anak
sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak Sedunia. Kepada khalayak ramai
saya
bagikan poster bertuliskan "To Respect Child Rights is an Obligation,
not a Choise" sebuah seruan yang mengingatkan bahwa "Menghormati Hak
Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan". Tanpa saya sadari, saya telah
melanggar hak anak saya karena telah memanggilnya dengan panggilan
yang
tidak hormat dan bermartabat.

Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam tingkah
polah anak yang membuat orang tua kadang-kadang bangga dan juga
kadang-kadang jengkel, ternyata ada banyak Pesan Yang Tak
Terucapkan.

Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun
anak yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus
diajarkan untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi para ayah (orang
tua) tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati anak-anaknya.
Para
ayah harus mendidik anaknya di dalam ajaran dan nasehat ALLAH.

Untuk menyambut Peringatan Hari Anak Nasional Tanggal 23 Juli 2004,
saya ingin mengingatkan kembali kepada para orang tua supaya selalu
berpikir, bersikap dan melakukan hal-hal yang dikehendaki ALLAH.

(Ditulis oleh : Lesminingtyas)
http://www.airputih.tk