Ternyata Kita Bukan Kita yang Dulu Lagi
Alangkah uniknya hidup ini. Setiap peristiwa baru adalah stasiun kenangan. Tempat setiap orang memutar kembali ingatan masa lalunya, baik atau buruknya, biasa atau istimewanya. Tempat kita menyimpan catatan tentang apa yang datang dan hilang dari kita, hari kemarin. Setiap peristiwa adalah sumbu-sumbu bagi kantong-kantong kenangan itu. Tempat kita menyalakan ingatan, dengan segenap emosi kita, tentang apa yang singgah dan pergi dalam hidup, selama ini.
Maka setiap kali ingatan yang dulu terekam berputar kembali, berjuta rasa bisa saja berkecamuk dalam jiwa kita. Sedih, luka, bahagia, atau bahkan rasa kehilangan yang sangat mendalam.
Kenyataan ini menjelaskan salah satu prinsip penting, bahwa garis-garis hidup ternyata tidak datar. Tiba-tiba saja seseorang telah meninggi jauh, meninggalkan posisinya kemarin pagi. Tiba-tiba saja, seseorang berubah menjadi sosok yang lain dari kemarin-kemarin.
Setiap kita mungkin pernah mengalami perubahan hidup, yang membuat kita kehilangan sebagian dari masa lalu kita, kehilangan apa-apa yang dulu kita miliki. Bahkan mungkin kehilangan jati diri kita. Dari status yang satu ke status yang lain.
Umar bin Abdul Aziz mengajarkan pada kita hal yang jauh lebih penting dari sekedar kehilangan sesuatu dari diri dan kehidupan ini. Ialah bagaimana menyikapi kehilangan itu. Bagaimana bertindak menghadapi sebuah kehilangan dan perubahan yang pasti terjadi pada setiap orang.
Mungkin masih banyak di antara kita yang kehilangan masa lalu, dengan segala kenangan indahnya, kehilangan keahlian dan kecakapan profesional. Sebabnya adalah, setiap orang pasti kehilangan sebagian atau seluruh dirinya, yang ia miliki dahulu,. Tetapi tidak semua orang bisa mencari pengganti bagi kehilangan-kehilangan itu, pada hari-harinya yang baru atau statusnya yang baru.
Ini sepertinya membuat kita harus memaknai lebih rumit perjalanan hidup kita. Tak mengapa. Bukan soal rumitnya, tentu. Sebab, bisa jadi kita begitu hanyut dalam rutinitas, atau sebaliknya, terjembab dalam perubahan dan persaingan hidup yang sangat keras, tanpa kita menyadari, betapa ternyata telah begitu banyak yang hilang dari diri kita. Betapa, ternyata kita bukan yang dulu lagi, bukan pula kita yang baru, dengan kebesaran yang benar-benar baru.
Sekali lagi, sejujurnya kita memang harus bertanya, adakah yang telah hilang dari diri kita?
Dikutip dari Tarbawi edisi 69 Th. 5/Sya’ban 1424 H/2 Oktober 2003 M
*Lama tapi masih bermakna ^-^*
Alangkah uniknya hidup ini. Setiap peristiwa baru adalah stasiun kenangan. Tempat setiap orang memutar kembali ingatan masa lalunya, baik atau buruknya, biasa atau istimewanya. Tempat kita menyimpan catatan tentang apa yang datang dan hilang dari kita, hari kemarin. Setiap peristiwa adalah sumbu-sumbu bagi kantong-kantong kenangan itu. Tempat kita menyalakan ingatan, dengan segenap emosi kita, tentang apa yang singgah dan pergi dalam hidup, selama ini.
Maka setiap kali ingatan yang dulu terekam berputar kembali, berjuta rasa bisa saja berkecamuk dalam jiwa kita. Sedih, luka, bahagia, atau bahkan rasa kehilangan yang sangat mendalam.
Kenyataan ini menjelaskan salah satu prinsip penting, bahwa garis-garis hidup ternyata tidak datar. Tiba-tiba saja seseorang telah meninggi jauh, meninggalkan posisinya kemarin pagi. Tiba-tiba saja, seseorang berubah menjadi sosok yang lain dari kemarin-kemarin.
Setiap kita mungkin pernah mengalami perubahan hidup, yang membuat kita kehilangan sebagian dari masa lalu kita, kehilangan apa-apa yang dulu kita miliki. Bahkan mungkin kehilangan jati diri kita. Dari status yang satu ke status yang lain.
Umar bin Abdul Aziz mengajarkan pada kita hal yang jauh lebih penting dari sekedar kehilangan sesuatu dari diri dan kehidupan ini. Ialah bagaimana menyikapi kehilangan itu. Bagaimana bertindak menghadapi sebuah kehilangan dan perubahan yang pasti terjadi pada setiap orang.
Mungkin masih banyak di antara kita yang kehilangan masa lalu, dengan segala kenangan indahnya, kehilangan keahlian dan kecakapan profesional. Sebabnya adalah, setiap orang pasti kehilangan sebagian atau seluruh dirinya, yang ia miliki dahulu,. Tetapi tidak semua orang bisa mencari pengganti bagi kehilangan-kehilangan itu, pada hari-harinya yang baru atau statusnya yang baru.
Ini sepertinya membuat kita harus memaknai lebih rumit perjalanan hidup kita. Tak mengapa. Bukan soal rumitnya, tentu. Sebab, bisa jadi kita begitu hanyut dalam rutinitas, atau sebaliknya, terjembab dalam perubahan dan persaingan hidup yang sangat keras, tanpa kita menyadari, betapa ternyata telah begitu banyak yang hilang dari diri kita. Betapa, ternyata kita bukan yang dulu lagi, bukan pula kita yang baru, dengan kebesaran yang benar-benar baru.
Sekali lagi, sejujurnya kita memang harus bertanya, adakah yang telah hilang dari diri kita?
Dikutip dari Tarbawi edisi 69 Th. 5/Sya’ban 1424 H/2 Oktober 2003 M
*Lama tapi masih bermakna ^-^*