Cara terbaik menikmati buah adalah dengan mengupas kulitnya, memakan isinya dan meninggalkan bijinya.
Cara terbaik menikmati persahabatan adalah dengan menyingkirkan kejelekan yang ada pada sahabatmu, mensyukuri kebaikannya dan menerima segala kekurangannya.
Bergaullah dengan menjadikan dirimu sebagai orang yang paling banyak manfaatnya bagi sahabat2-mu.
Bergaullah sehingga keberadaanmu menarik simpati mereka dan kepergianmu dari dunia akan menyebabkan kedukaan dan gugurnya air mata mereka.
taken from:http://www.airputih.tk
backsound:Sekali Ini Saja-Glenn
huaaa..jadi melankonis lagi dehh..


well..talking about today. NYENENGIN BANGGET..why?
hari ini yang ikut kajian alhamdulillah banyak loo..maksudnya banyak anggota baru dari kelas I


siangnya, sekitar jam 1-an, pembukaan SAMSA (Studi Bersama Sahabat) dimulai. Aku jadi Pendamping Kelompok (PK) atau bahasa kerennya Asisten Mentor Putri (Astri) kelas 1.2 huhuhu..asli rame bow! Mbak2 mentornya juga baik2 n lucu2



banyak banget yang diomongin, mulai dari pelajaran sampe tentang BDI (promosi ni yee..) swear de, ikutan BDI bakal enak bgt, coz salah satu factor yang menarik adalah banyak makan2


have a nice day all..
c u all mwah2

Suatu hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya;
"Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berbicara
dengan suara kuat atau berteriak?"
Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab;
"Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu
berteriak."
"Tapi..." sang guru balik bertanya, "lawan bicaranya justru berada
disampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara
halus?"
Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut
pertimbangan mereka. Namun tak satupun jawaban yang memuaskan. Sang guru
lalu berkata; "Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak
antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu
dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus
berteriak.
Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi
marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun
menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras
lagi."
Sang guru masih melanjutkan; "Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang
saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka
berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil.
Sehalus apapun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa
demikian?" Sang guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya. Mereka
nampak berpikir amat dalam namun tak satupun berani memberikan jawaban.
"Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya
sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja amatlah
cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan."
Sang guru masih melanjutkan; "Ketika anda sedang dilanda kemarahan,
janganlah hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu tidak
mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu. Mungkin di saat
seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang
bijaksana. Karena waktu akan membantu anda."
sumber: Unknown (Tidak Diketahui)
- segelas air putih, untuk kesegaran jiwa -
web : www.airputih.tk
tampaknya hari2ku akan terasa lebih indah bila aku mulai bisa menerima kenyataan dan menghadapinya dengan sikap yang positif, iya ndak?

eniwei, I want to say HAPPY BIRTHDAY 4 Ahmadi (ya2k), yang skul di SMA 4. swit sepentin euy!


sibuk..sibuk..sibuk..

c u all mwah2

uahhh.. beberapa hari ga onlen bikin aku kangen..



about x-kul..sekarang lagi direpotin ma persiapan kegiatan PAI (Pemantapan Akidah Islam) yang mo diselenggarain di skul bulan Agustus. Aku jadi PK (Pendamping Kelompok untuk kelas 1) sekaligus masup Sie Dekorasi..
eniwei, ada yang rada bikin happy kemaren. Kemaren seperti biasa, ada kajian BDI, khusus akhwat (putri.red). teyus..ada anggota baru dari anak kelas 1..


akhirnya acara kajian saat itu adalah Ta’aruf (perkenalan)..
Alhamdulillah banyak yang dateng (termasuk alumni n mentor), n dimeriahi oleh nasyid dadakan oleh mbak2 kelas 3nya (termasuk aku) Yeahh!!



sayang waktu itu lupa difoto n direkam suaranya, padahal udah bawa hape kesayangan (sekaligus baru) N3200


c u all mwah2

saya buka kembali buku hidup saya, sebagai bahan perenungan bagi para
orang tua
Tahun 2002 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor.
Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu
itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala
sekolah.
Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang
duduk di kelas unggulan, tempat
penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu justru tercatat
sebagai anak yang bermasalah.
Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru
menanyakan apa yang terjadi di rumah
sehingga anak tersebut selalu murung dan menghabiskan sebagian besar
waktu belajar di kelas hanya untuk
melamun. Prestasinya kian lama kian merosot. Dengan lemah lembut saya
tanyakan kepada Dika "Apa yang kamu inginkan ?" Dika hanya
menggeleng.
"Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?" tanya saya
"Biasa-biasa saja" jawab Dika singkat.
Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah
untuk
mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan.
Akhirnya
kamipun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog.
Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah
untuk
menjalani test IQ. Tanpa
persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi soal dalam hitungan
menit. Beberapa saat kemudian, Psikolog yang tampil bersahaja namun
penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya. Angka
kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas) dimana
skor
untuk aspek-aspek kemapuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu
pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 -
160. Ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya
tidak
lebih dari 115 (Rata-Rata Cerdas).
Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah
yang menurut Psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Oleh
sebab itu Psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk
mengantar
Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu
menjalani test kepribadian.
Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti
serangkaian test kepribadian.
Melalui interview dan test tertulis yang dilakukan, setidaknya
Psikolog
itu telah menarik benang merah
yang menurutnya menjadi salah satu atau beberapa factor penghambat
kemampuan verbal Dika. Setidaknya
saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika. Jawaban yang jujur dari
hati
Dika yang paling dalam itu
membuat saya berkaca diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh
dari ideal.
Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan "Aku ingin ibuku :...."
Dikapun menjawab : "membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar
saja" Dengan beberapa pertanyaan
pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya kurang memberi kesempatan
kepada Dika untuk bermain bebas.
Waktu itu saya berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan
edukatif
sehingga saya merasa
perlu menjawalkan kapan waktunya menggambar, kapan waktunya bermain
puzzle, kapan waktunya bermain
basket, kapan waktunya membaca buku cerita, kapan waktunya main game
di
computer dan sebagainya.
Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya,
Dika
perlu menikmati
permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu luangnya yang
memang tinggal sedikit karena sebagian besar telah dihabiskan untuk
sekolah dan mengikuti berbagai kursus di luar sekolah. Saya selalu
pusing memikirkan jadwal kegiatan Dika yang begitu rumit.
Tetapi ternyata permintaan Dika hanya sederhana :
diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa kanak-
kanaknya.
Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan "Aku ingin Ayahku ..."
Dikapun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira
artinya
"Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku melakukan
sesuatu" Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa
Dika
tidak mau diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan
ini
dan itu. Ia hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap
hari,
seperti apa yang diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun
pagi-pagi kemudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan
minum
tanpa harus dilayani orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan
sendiri koran yang habis dibacanya dan tidur tepat waktu. Sederhana
memang, tetapi hal-hal seperti itu justru sulit dilakukan oleh
kebanyakan orang tua.
Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan "Aku ingin ibuku tidak ..."
Maka
Dika menjawab "Menganggapku seperti dirinya" Dalam banyak hal saya
merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja keras,
disiplin, hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan itu
merupakan sikap yang paling baik dan
bijaksana. Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika persis seperti
diri
saya. Saya dan banyak orang tua
lainnya seringkali ingin menjadikan anak sebagai foto copy diri kita
atau bahkan beranggapan bahwa anak
adalah orang dewasa dalam bentuk sachet kecil.
Ketika Psikolog memberikan pertanyaan "Aku ingin ayahku tidak : .."
Dikapun menjawab "Tidak
mempersalahkan aku di depan orang lain. Tidak mengatakan bahwa
kesalahan-kesalahan kecil yang aku
buat adalah dosa"
Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap
dan
bertindak benar, hingga
hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk berbuat kesalahan.
Bila
orang tua menganggap bahwa
setiap kesalahan adalah dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka
anakpun akan memilih untuk
berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya
dengan
jujur. Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu
kesalahan
apa yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang
harus
kami lakukan untuk mencegah atau menghentikannya.
Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi
kesempatan
untuk berbuat salah, kemudian iapun bisa belajar dari kesalahannya.
Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bisa
menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak
membuat
kesalahan yang serupa.
Ketika Psikolog itu menuliskan "Aku ingin ibuku berbicara
tentang ....."
Dikapun menjawab "Berbicara
tentang hal-hal yang penting saja". Saya cukup kaget karena waktu itu
saya justru menggunakan kesempatan
yang sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal
yang
menurut saya penting, seperti
menanyakan pelajaran dan PR yang diberikan gurunya.
Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting, bukanlah sesuatu
yang
penting untuk anak saya.
Dengan jawabab Dika yang polos dan jujur itu saya dingatkan bahwa
kecerdasan tidak lebih penting dari
pada hikmat dan pengenalan akan Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak
kalah pentingnya dengan ilmu
pengetahuan.
Atas pertanyaan "Aku ingin ayahku berbicara tentang .....", Dikapun
menuliskan "Aku ingin ayahku berbicara
tentang kesalahan-kesalahannya. Aku ingin ayahku tidak selalu merasa
benar, paling hebat dan tidak pernah
berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya dan meminta
maaf
kepadaku". Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar tetapi
sebagai manusia, orang tua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika
sebenarnya sederhana, yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui
kesalahnya dan kalau perlu
meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang tua
kepadanya.
Ketika Psikolog menyodorkan tulisan "Aku ingin ibuku setiap hari
........"
Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar "
Aku
ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan
memeluk adikku"
Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya
sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata
saya salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap
dibutuhkan supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya
tidak
menyadari bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-
anaknya
seringkali oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak
adil
atau pilih kasih.
Secarik kertas yang berisi pertanyaan "Aku ingin ayahku setiap hari
....."
Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu
kata
"tersenyum" Sederhana memang, tetapi
seringkali seorang ayah merasa perlu menahan senyumannya demi
mempertahankan wibawanya. Padahal
kenyataannya senyuman tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan
melunturkan wibawanya, tetapi justru bisa
menambah simpati dan energi bagi anak-anak dalam melakukan segala
sesuatu seperti yang ia lihat dari
ayahnya setiap hari.
Ketika Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan
"Aku ingin ibuku memanggilku...." Dikapun menuliskan "Aku ingin ibuku
memanggilku dengan nama yang bagus"
Saya tersentak sekali ! Memang sebelum ia lahir kami telah memilih
nama
yang paling bagus dan penuh arti,
yaitu Judika Ekaristi Kurniawan. Namun sayang, tanpa sadar, saya
selalu
memanggilnya dengan sebutan Nang atau Le. Nang dalam Bahasa Jawa
diambil
dari kata "Lanang" yang berarti laki-laki. Sedangkan Le dari
kata "Tole", kependekan dari kata "Kontole" yang berarti alat kelamin
laki-laki. Waktu itu saya merasa bahwa panggilan tersebut wajar-wajar
saja, karena hal itu merupakan sesuatu yang lumrah di kalangan
masyarakat Jawa.
Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi "Aku ingin ayahku
memanggilku .." Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu "Nama Asli".
Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan "Paijo"
karena sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa
Sunda dengan logat Jawa medok. "Persis Paijo, tukang sayur keliling"
kata suami saya.
Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu
karena selama ini saya bekerja di
sebuah lembaga yang membela dan memperjuangkan hak-hak anak. Kepada
banyak orang saya kampanyekan pentingnya penghormatan hak-hak anak
sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak Sedunia. Kepada khalayak ramai
saya
bagikan poster bertuliskan "To Respect Child Rights is an Obligation,
not a Choise" sebuah seruan yang mengingatkan bahwa "Menghormati Hak
Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan". Tanpa saya sadari, saya telah
melanggar hak anak saya karena telah memanggilnya dengan panggilan
yang
tidak hormat dan bermartabat.
Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam tingkah
polah anak yang membuat orang tua kadang-kadang bangga dan juga
kadang-kadang jengkel, ternyata ada banyak Pesan Yang Tak
Terucapkan.
Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun
anak yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus
diajarkan untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi para ayah (orang
tua) tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati anak-anaknya.
Para
ayah harus mendidik anaknya di dalam ajaran dan nasehat ALLAH.
Untuk menyambut Peringatan Hari Anak Nasional Tanggal 23 Juli 2004,
saya ingin mengingatkan kembali kepada para orang tua supaya selalu
berpikir, bersikap dan melakukan hal-hal yang dikehendaki ALLAH.
(Ditulis oleh : Lesminingtyas)
http://www.airputih.tk
Suatu ketika, ada seorang anak wanita yang bertanya
kepada Ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat
Ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai
berkerut-merut dengan badannya yang terbungkuk-bungkuk,
disertai suara batuk-batuknya.
Anak wanita itu bertanya pada ayahnya : "Ayah, mengapa
wajah Ayah kian berkerut-merut dengan badan Ayah yang
kian hari kian terbungkuk ?" Demikian pertanyaannya,
ketika Ayahnya sedang santai di beranda.
Ayahnya menjawab : "Sebab aku Laki-laki." Itulah jawaban
Ayahnya. Anak wanita itu bergumam : "Aku tidak mengerti."
Dengan kerut-kening karena jawaban Ayahnya membuatnya
tercenung rasa penasaran.
Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak
wanita itu, terus menepuk-nepuk bahunya, kemudian Ayahnya
mengatakan : "Anakku, kamu memang belum mengerti tentang
Laki-laki." Demikian bisik Ayahnya, yang membuat anak
wanita itu tambah kebingungan.
Karena penasaran, kemudian anak wanita itu menghampiri
Ibunya lalu bertanya kepada Ibunya : "Ibu, mengapa
wajah Ayah jadi berkerut-merut dan badannya kian hari
kian terbungkuk ? Dan sepertinya Ayah menjadi
demikian tanpa ada keluhan dan rasa sakit ?"
Ibunya menjawab : "Anakku, jika seorang Laki-laki
yang benar-benar bertanggung-jawab terhadap keluarga
itu memang akan demikian." Hanya itu jawaban sang Ibu.
Anak wanita itupun kemudian tumbuh menjadi dewasa,
tetapi dia tetap saja penasaran, mengapa wajah Ayahnya
yang tadinya tampan menjadi berkerut-merut dan
badannya menjadi terbungkuk-bungkuk ?
Hingga pada suatu malam, anak wanita itu bermimpi.
Di dalam impian itu seolah-olah dia mendengar
suara yang sangat lembut, namun jelas sekali.
Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata
suatu rangkaian kalimat sebagai jawaban rasa
kepenasarannya selama ini.
"Saat Ku-ciptakan Laki-laki, aku membuatnya sebagai
pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga
dari bangunan keluarga, dia senantiasa akan berusaha
untuk menahan setiap ujungnya, agar keluarganya merasa
aman, teduh dan terlindungi."
"Ku-ciptakan bahunya yang kekar dan berotot untuk
membanting-tulang menghidupi seluruh keluarganya
dan kegagahannya harus cukup kuat pula untuk
melindungi seluruh keluarganya."
"Ku-berikan kemauan padanya agar selalu berusaha
mencari sesuap nasi yang berasal dari tetes keringatnya
sendiri yang halal dan bersih, agar keluarganya
tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapat
cercaan dari anak-anaknya."
"Ku-berikan keperkasaan dan mental baja yang akan
membuat dirinya pantang menyerah, demi keluarganya
dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari,
demi keluarganya dia merelakan badannya berbasah
kuyup kedinginan karena tersiram hujan dan dihembus angin,
dia relakan tenaga perkasanya terkuras demi keluarganya,
dan yang selalu dia ingat, adalah disaat semua
orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil
dari jerih-payahnya."
"Kuberikan kesabaran, ketekunan serta keuletan yang
akan membuat dirinya selalu berusaha merawat
dan membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah,
walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihan
dan kesakitan kerapkali menyerangnya."
"Ku-berikan perasaan keras dan gigih untuk berusaha
berjuang demi mencintai dan mengasihi keluarganya,
didalam kondisi dan situasi apapun juga, walaupun
tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya,
melukai hatinya. Padahal perasaannya itu pula yang
telah memberikan perlindungan rasa aman pada saat
dimana anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan
perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila
aaat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya
agar selalu saling menyayangi dan saling mengasihi
sesama saudara."
"Ku-berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya
untuk memberikan pengertian dan kesadaran
terhadap anak-anaknya tentang saat kini dan saat
mendatang, walaupun seringkali ditentang bahkan
dilecehkan oleh anak-anaknya."
"Ku-berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya
untuk memberikan pengetahuan dan menyadarkan,
bahwa Isteri yang baik adalah Isteri yang setia
terhadap Suaminya, Isteri yang baik adalah Isteri
yang senantiasa menemani, dan bersama-sama menghadapi
perjalanan hidup baik suka maupun duka,
walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji
setiap kesetiaan yang diberikan kepada Isteri, agar
tetap berdiri, bertahan, sejajar dan saling melengkapi
serta saling menyayangi."
"Ku-berikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti,
bahwa Laki-laki itu senantiasa berusaha sekuat daya
pikirnya untuk mencari dan menemukan cara agar
keluarganya bisa hidup didalam keluarga sakinah dan
badannya yang terbungkuk agar dapat membuktikan, bahwa
sebagai Laki-laki yang bertanggung jawab terhadap
seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan
sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya,
keuletannya demi kelangsungan hidup keluarganya."
"Ku-berikan kepada Laki-laki tanggung-jawab penuh
sebagai pemimpin keluarga, sebagai tiang penyangga,
agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya.
Dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh
Laki-laki, walaupun sebenarnya tanggung-jawab ini
adalah amanah di dunia dan akhirat."
Terbangun anak wanita itu, dan segera dia berlari,
dia hampiri bilik Ayahnya yang sedang berdzikir, ketika Ayahnya
berdiri anak wanita itu merengkuh dan mencium
telapak tangan Ayahnya.
"Aku mendengar dan merasakan bebanmu, Ayah."
dan kurindu kasih sayangmu, ayah!
http://www.airputih.tk
kadang aku ingin berkata tanpa harus berbicara..
berbicara hanya dengan bahasa kalbu..
bibir ini tak ingin berkata apa-apa
sudah terlalu banyak kata basi yang ia ucapkan
ia lelah..
terucap saat teringat apa yang aku ucapkan saat membicarakan orang lain, saat berkata sesuatu yang bisa dibilang ngigo
bsound: Sing for Absolution-Muse *Sing 4 absolution..!! I will be singing!!!

huaaaaaaaa...
akhirnya bisa posting juga *sigh*
today is my 1st day at science class..

huaa..gw jadi anak IPA 4!!


seharian ngider2 cuma buat makan, nyamperin temen2, nyamperin adek2 BDI, ke perpus (pinjam buku), n nganterin Lilyt kemana2.. dudulz, akhirnya di sana gw harus duduk di depan (deket guru lagi *grmbl*), btiga, coz gw agak siang datengnya jadi ga kebagian tempat

yeahhh..moga2 besok jadi hari yang lebih baik

c u all..mwah2

Tadi ‘berburu’ buku lagi di Gramedia. Asyiikk..!! setelah muter2 cari buku pengganti n buku buat aq sendiri, aku akhirnya beli buku “Bolehkah Aku Memanggilmu, Ayah?” karya Chichi Sukardjo sama “Anak Sepasang Bintang” Antologi FLP. Baru baca yang “Bolehkah Aku Memanggilmu, Ayah?” itu pun masi belom selesai

Segala rutinitas yang mengantarkan aku pada kesibukan mengurus karier, uang dan kekuasaan (pekerjaan), boleh jadi telah mengeraskan hatiku. Terlebih lagi jabatanku di perusahaan semakin strategis dan menuntut tanggung jawab yang besar. Aku sadari juga ternyata ini pun menjauhkanku dari nilai-nilai ukhrawi yang sejak kecil ditanamkan oleh kedua orang tuaku. Dan, ternyata di satu masa, hal-hal berbau agamis hilang begitu saja digulung menjauh dari relung kalbu.
Saat ini, aku sudah berkeluarga dengan dua orang putra-putri yang boleh kubanggakan. Kata orang aku tampan dan brilliant. Istriku juga wanita karier yang tidak saja cantik dan pintar, tapi juga lemah lembut dan keibuan. Pendeknya, rumah tanggaku dikaruniai kebahagiaan. Alhamdulillah.
Selama ini hal-hal yang bersifat social diurus dengan baik oleh istriku. Bantuan untuk anak yatim, rumah jompo, anak-anak cacat, pembangunan masjid, sekolah, dan laun-lain. O ya, termasuk mengalokasikan dana darigaji kami untuk zakat, kurban, infak, dan sedekah.aku sih tinggal menerima laporannya saja. Pokoknya tugas utamaku adalah mencari uang. Karena bukankah hanya dengan uang kita bisa menyelesaikan semua masalah?
Walau kadang-kadang istriku mengingatkanku agar tidak terlalu keras bekerja. Aku Cuma tersenyum kecut. Memangnya dari mana semua kemewahan bisa diperoleh kalau tidak bekerja keras? Dari mana semua kebtuhan hidup dapat diraih kalau bukan dengan uang?
Namun demikian, pandanganku soal materi lenyap begitu saja ketika sore itu aku menemani istriku menyantuni anak-anak yatim di sebuah panti asuhan di pinggiran kota Jakarta. Panti asuhan suram, kotor dan penuh anak-anak kurus, pucat dan bau. Pakaian yang dikenakan mereka sudah tak layak pakai lagi. Mengapa sih istriku tidak mencari tempat santunan yang lebih baik? Yng lebih bersih gitu? Yang anak-anaknya lebih manis-manis, bersih dan beradab. Huhh..tahu begini malas deh aku nganterin!
Saat itu, acara kami bersilaturahmi di panti asuhan sudah hampir selesai. Semua anak sudah dibagikan pakaian baru, perlengkapan sekolah dan ejumlah buku cerita dan majalah anak-anak. Makanan, minuman, serta sejumlah uang tunai yang dititipkan kepada ibu asrama cukup untuk konsumsi sebulan panti.
Aku bersiap-siap hendak ke mobil, ketika seorang anak perempuam sebaya Salsabilla, putriku berusia tujuh tahun, takut-takut mendekatiku.
“Om…” tanyanya ragu.
“Ya, ada apa saying?” aku mencoba ramah. Kulihat dia tidak seperti anak lainnya. Kulitnya sawo matang bersih dan wajahnya cantik. Matanya yang berbinar menunjukkan kecerdasan dan kemurnian hati.
“Om, bolehkah sayameminta sesuatu?”
“Mau minta apa lagi?” jawabanku terdengar agak ketus. Aku kaget juga mendengarnya.
“Eh…ee, maksud Om, apa lagi yang kamu butuhkan?” kucoba memperbaiki diri saat kulihat bola matanya mulai digenangi air mata.
“Bolehkah sasa-saya minta se…se…suatu?” tanyanya terbata-bata dengan suara nyaris hilang diembus angin.
“Tentu saja boleh, Saysng. Mau boneka Barbie?” aku teringat Salsa yang mengoleksi Barbie legkap dengan rumah, pakaian, dan pernak-pernik lainnya. Tapi, gadis kecil ini menggelengkan kepala.
“Hmm…,sepatu baru mungkin?” aku mencoba mulai bermain teka-teki. Dia masih tetap menggeleng.
“Atau sebuah sepeda mini?” tapi tetap saja dia menggeleng. Aku jadi kesal. Mau minta apa sih? Uang barangkali, omelku dalam hati.
“Apa Om enggak marah?” tanyanya takut-takut. Aku menggeleng menyejajarkan pandanganku dengan matanya sambil memegang kedua bahunya.
“Katakan sayang, mau minta apa?”
“Mmm,mmm, bolehkah saya memanggil Om, ayah?” tuturnya dengan penuh keraguan. “Saya, saya tidak pernah punya ayah. Kata Ibu Tien, kepala panti, Bapak mati ditabrak kereta api waktu saya masih dalam perut Emak. Saya kepingin sekali punya ayah. Bolehkah saya memanggi Om, ‘Ayah’?”
Duhai Allah, ada apa ini? Mengapa seorang anak panti tidak tertarik dengan benda-benda mahal yang kutawarkan kepadanya? Dia hanya ingin memanggilku Ayah. Aku tidak pernah menangis, kehidupan yang keras telah mengajariku lupamenitikkan air mata, itu pun saat bulan Ramadhan dan berbuka puasa bersama para relasi dan kerabat.
Tapi saat ini hatiku tergunjang hebat. Allah swt. Secara telak mengalahkanku. Astaghfirullah al’-azhiim. Kupeluk dia erat-erat “Tentu saja sayang, kamu boleh memanggilku Ayah.”
“Betul?” wajahnya menyiratkan rasa tidak percaya namun bahagia. Kami berpelukan beberapa saat.
“Ayah, bolehkan saya minta satu lagi?” aku mengangguk.
“Bolehkah saya minta foto Ayah, Ibu dan Kakak-kakak? Saya akan kasih lihat sama teman-teman di sekolah bahwa saya juga punya keluarga sama seperti mereka. Boleh?”
***
hik.hik. aku baca cerita itu langsung nyes rasanya..pengen nangis saking terharunya..


Tadi ‘berburu’ buku lagi di Gramedia. Asyiikk..!! setelah muter2 cari buku pengganti n buku buat aq sendiri, aku akhirnya beli buku “Bolehkah Aku Memanggilmu, Ayah?” karya Chichi Sukardjo sama “Anak Sepasang Bintang” Antologi FLP. Baru baca yang “Bolehkah Aku Memanggilmu, Ayah?” itu pun masi belom selesai

Segala rutinitas yang mengantarkan aku pada kesibukan mengurus karier, uang dan kekuasaan (pekerjaan), boleh jadi telah mengeraskan hatiku. Terlebih lagi jabatanku di perusahaan semakin strategis dan menuntut tanggung jawab yang besar. Aku sadari juga ternyata ini pun menjauhkanku dari nilai-nilai ukhrawi yang sejak kecil ditanamkan oleh kedua orang tuaku. Dan, ternyata di satu masa, hal-hal berbau agamis hilang begitu saja digulung menjauh dari relung kalbu.
Saat ini, aku sudah berkeluarga dengan dua orang putra-putri yang boleh kubanggakan. Kata orang aku tampan dan brilliant. Istriku juga wanita karier yang tidak saja cantik dan pintar, tapi juga lemah lembut dan keibuan. Pendeknya, rumah tanggaku dikaruniai kebahagiaan. Alhamdulillah.
Selama ini hal-hal yang bersifat social diurus dengan baik oleh istriku. Bantuan untuk anak yatim, rumah jompo, anak-anak cacat, pembangunan masjid, sekolah, dan laun-lain. O ya, termasuk mengalokasikan dana darigaji kami untuk zakat, kurban, infak, dan sedekah.aku sih tinggal menerima laporannya saja. Pokoknya tugas utamaku adalah mencari uang. Karena bukankah hanya dengan uang kita bisa menyelesaikan semua masalah?
Walau kadang-kadang istriku mengingatkanku agar tidak terlalu keras bekerja. Aku Cuma tersenyum kecut. Memangnya dari mana semua kemewahan bisa diperoleh kalau tidak bekerja keras? Dari mana semua kebtuhan hidup dapat diraih kalau bukan dengan uang?
Namun demikian, pandanganku soal materi lenyap begitu saja ketika sore itu aku menemani istriku menyantuni anak-anak yatim di sebuah panti asuhan di pinggiran kota Jakarta. Panti asuhan suram, kotor dan penuh anak-anak kurus, pucat dan bau. Pakaian yang dikenakan mereka sudah tak layak pakai lagi. Mengapa sih istriku tidak mencari tempat santunan yang lebih baik? Yng lebih bersih gitu? Yang anak-anaknya lebih manis-manis, bersih dan beradab. Huhh..tahu begini malas deh aku nganterin!
Saat itu, acara kami bersilaturahmi di panti asuhan sudah hampir selesai. Semua anak sudah dibagikan pakaian baru, perlengkapan sekolah dan ejumlah buku cerita dan majalah anak-anak. Makanan, minuman, serta sejumlah uang tunai yang dititipkan kepada ibu asrama cukup untuk konsumsi sebulan panti.
Aku bersiap-siap hendak ke mobil, ketika seorang anak perempuam sebaya Salsabilla, putriku berusia tujuh tahun, takut-takut mendekatiku.
“Om…” tanyanya ragu.
“Ya, ada apa saying?” aku mencoba ramah. Kulihat dia tidak seperti anak lainnya. Kulitnya sawo matang bersih dan wajahnya cantik. Matanya yang berbinar menunjukkan kecerdasan dan kemurnian hati.
“Om, bolehkah sayameminta sesuatu?”
“Mau minta apa lagi?” jawabanku terdengar agak ketus. Aku kaget juga mendengarnya.
“Eh…ee, maksud Om, apa lagi yang kamu butuhkan?” kucoba memperbaiki diri saat kulihat bola matanya mulai digenangi air mata.
“Bolehkah sasa-saya minta se…se…suatu?” tanyanya terbata-bata dengan suara nyaris hilang diembus angin.
“Tentu saja boleh, Saysng. Mau boneka Barbie?” aku teringat Salsa yang mengoleksi Barbie legkap dengan rumah, pakaian, dan pernak-pernik lainnya. Tapi, gadis kecil ini menggelengkan kepala.
“Hmm…,sepatu baru mungkin?” aku mencoba mulai bermain teka-teki. Dia masih tetap menggeleng.
“Atau sebuah sepeda mini?” tapi tetap saja dia menggeleng. Aku jadi kesal. Mau minta apa sih? Uang barangkali, omelku dalam hati.
“Apa Om enggak marah?” tanyanya takut-takut. Aku menggeleng menyejajarkan pandanganku dengan matanya sambil memegang kedua bahunya.
“Katakan sayang, mau minta apa?”
“Mmm,mmm, bolehkah saya memanggil Om, ayah?” tuturnya dengan penuh keraguan. “Saya, saya tidak pernah punya ayah. Kata Ibu Tien, kepala panti, Bapak mati ditabrak kereta api waktu saya masih dalam perut Emak. Saya kepingin sekali punya ayah. Bolehkah saya memanggi Om, ‘Ayah’?”
Duhai Allah, ada apa ini? Mengapa seorang anak panti tidak tertarik dengan benda-benda mahal yang kutawarkan kepadanya? Dia hanya ingin memanggilku Ayah. Aku tidak pernah menangis, kehidupan yang keras telah mengajariku lupamenitikkan air mata, itu pun saat bulan Ramadhan dan berbuka puasa bersama para relasi dan kerabat.
Tapi saat ini hatiku tergunjang hebat. Allah swt. Secara telak mengalahkanku. Astaghfirullah al’-azhiim. Kupeluk dia erat-erat “Tentu saja sayang, kamu boleh memanggilku Ayah.”
“Betul?” wajahnya menyiratkan rasa tidak percaya namun bahagia. Kami berpelukan beberapa saat.
“Ayah, bolehkan saya minta satu lagi?” aku mengangguk.
“Bolehkah saya minta foto Ayah, Ibu dan Kakak-kakak? Saya akan kasih lihat sama teman-teman di sekolah bahwa saya juga punya keluarga sama seperti mereka. Boleh?”
***
hik.hik. aku baca cerita itu langsung nyes rasanya..pengen nangis saking terharunya..


hurayyy..!! hari ini ditelp dia, sekarang lagi di bandung, baru aja isi pulsa (setelah beberapa hari ‘ngilang’)

Siangnya nonton Eiffel (basi banget ya?) aku janjian ma Mami Si Gajah Mnari, tapi kyanya Mami ikutan Paskot tuh. Eh, sebenernya aku janji nonton sekarang apa besok ya??


akhirnya nonton eifel sendirian. Rada2 jutek juga se, dimana 2 orang pacaran

Pulang baru jam 4, beli voucher ma parfum.


Ya udah de, gitu aja kisah hari ini hehehe

C u all mwah2

2 hari ga posting gatel rasanya ni tangan :D
well..talkin' about yesterday. pertama2 acara jalan2:
1. balikin buku di daerah ITN, akhirnya pinjem Judy Blume:Just as We're Together
2. ke gramedia (mitra), niatnya mo cari buku "Si Jamin dan Si Johan" (buku pengganti yang kuilangin di perpus T-T) ternayat ga ada *hiks* tapi sakit ati itu terobati karena aku udah beli "Surga Juga Buat Remaja Lho..." :D
3. rencananya abis dari gramedia langsung berangkat les. tapi akrena masih ada 1,5 jam, pulang dulu deh (laperr..)
di rumah maem ma rujak cingur *nyammm..*

www.petra.ac.id/english/eastjava/
food/rujak.htm
baru sekitar jam 13.30 berangkat les dianterin Dad.. :D
eniwei, kemaren itu adalah hari ujian untuk PowerPoint I. ga susah2 amat ko, kan smua udah dipelajari baik di kursus maupun di rumah (walo di rumah ga secanggih di kursus ;))
pulang jam 4, di rumah ngabisin tahu (dicolek ma bumbunya rujak enak bangget..)
enak2 baca buku (malemnya), diqrimin sms berupa puisi dari brother tercinta, kak very (sik sik, tak cari catetannya dulu =p)
setelah aku berjalan meniti tepian hati,
kiranya akan ada rasa penyesalan
yang takkan terungkap
dalam hitungan waktu
karena aku sendiri juga lagi melankonis, aku bales dengan puisi jugak:
anggap aku menghilang
dalam kejaran waktu,
dan aku ingin melihat
dari cermin buramku
bertanya-tanya
akankah semua baik-baik saja.
ga cuma ke kakakku itu se, tapi juga ke orang2 yang seneng puisi jugak.. ada balesan dari temenku itu:
"smua baek2 aja ko! what's wrong? di rumahku ruame, ada syukuran!" hihihi..pengen ketawa juga se, ternyata di rumahnya ada aqiqohan adeknya (klo g salah, asal bukan dia yang diaqiqohi =p)
malemnya, jam 11an saat aku enak2 terbuai dalam mimpi, ada yang telpon *grmbl* di layar ponsel cuma ada 'nomor pribadi' +_-
akhirnya aku angkat, "Haloo..(dengan suara2 merdu *whuek*)" "Haloo..I miss u" Ha??!! o_0 sapa neh? jelas bukan dari dia, aku apal bener suara jeleknya (hehehe). "sapa nehh?" "masa kamu lupa se ama aku?" "hahh..ga tau emang!" "coba tebak sapa.." "ga taooo..(ambil klamut2 bin ngiler2 *weks*)" "secepat itukah kau melupakanku?" "sapa seh??gimana aku tau kalo di layarku cuma ada 'nomor pribadi gitu'" "emang kusengaja ko, biar kamu ga tau ;)" "ya udah..emang ini sapa to??" (tiba2 berpuitis2 ria tapi ga jelas maksudnya hehehe) "Ya udah de, kalo gitu met bobo ya, kapan2 kutelpon lagi. assalamu'alaikum" "w'alaikumsalam" dan aku pun terlelap dengan suksesnya tanpa tau sapa yang nelpon tadi malem..
DASAR ISENG!!